Assalamu'alaikum wr. wb..Selamat datang di blog Medical Education, Semoga bermanfaat ya guys.. Terimakasih
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

TRANSFUSI DARAH



            
   transfusi darah


      Suatu tindakan pemindahan darah dari seorang donor kepada seorang resipien.
           Transfusi darah adalah suatu bentuk transplantasi(CANGKOK) jaringan atau organ dari seorang atau beberapa orang donor kepada resipien, tetapi disini organ yang ditransplantasikan adalah darah.


 FUNGSI DARAH :
 
Ú  Mengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh jaringan/organ tubuh.
Ú  Mengangkut CO2 dari jaringan ke paru-paru.
Ú  Mengandung faktor-faktor pembeku.
Ú  Mengandung zat-zat anti dan makrofag.
Ú  Mengandung protein.
Ú  Mengandung vitamin-vitamin dan zat-zat lain yang penting
Ú  Mempunyai fungsi-fungsi lain yang banyak sekali.





TUJUAN TRANSFUSI DARAH :

       1.         Meningkatkan oksigenasi jaringan. 
       2.         Memperbaiki hemostasis.
      3.         Mengkoreksi hipovolemia.
    4.         Pada kasus-kasus tertentu terutama untuk meningkatkan fungsi lekosit.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

gizi pada anak

HUBUNGAN ANTARA PENYAKIT CACINGAN DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK SEKOLAH DASAR (SD) DISEKOLAH DASAR AL MUSTOFA SURABAYA
Oleh: PIPIT FESTI

ABSTRAK

Kejadian Penyakit cacing pada usia sekolah terjadi pada wilayah kumuh dan pada kelompok rawan gizi atau status gizi buruk. Bila status gizi buruk akan menyebabkan gangguan gizi, anemia, gangguan pertumbuhan dan tingkat kecerdasan anak menurun.Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara penyakit cacingan dengan staus gizi pada anak usia sekolah. Jenis penelitian merupakan penelitian korelasi . Populasi anak sekolah usia 6-7 pada kelas 1 sejumlah 40 0rang di SD AL Mustofa Surabaya.Teknik sampling adalah simple random sampling, sampel sejumlah 30 anak. Pengompulan data menggunakan lembar observasi dan uji laboratorium. Teknik analisis menggunalkan uji chi squere dengan ; 0,05.Hasil penelitian didapatkan status gizi baik 53,3 % pemeriksaan cacingan negative 56% , sebagaian tidak terkena cacingan 44 %.Hasil uji statistic didapatkan p=0,310 berarti tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian cacingan.Banyak faktor yang menjadi penyebab kejadian cacingan, salah satunya adalah perilaku hygiene individu. Diharapkan adanya peningkatan perilaku hygiene anak sekolah sehingga mencegah kejadian cacingan.

A. PENDAHULUAN

Gizi merupakan bagian terpenting dalam proses kehidupan dan proses tumbuh kembang anak. Sehingga pemenuhan kebutuhan gizi adekuat turut menentukan tumbuh kembang sebagai sumber daya manusia dimasa yang akan datang (Zaenal, 2007). Secara umum gizi sebagai bagian dari kesehatan untuk semua, mempunyai peran yang strategis dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama dalam menciptakan generasi baru yang berkualitas maju, mandiri dan cerdas (Nestle, 2005).
Kebutuhan gizi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak, mengingat
manfaat gizi dalam tubuh dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mencegah terjadinya berbagai penyakit akibat kurang gizi dalam tubuh (A. Aziz, H. 2007). Adapaun salah satu penyebab dari gangguan status gizi adalah penyakit cacingan. Bila status gizi buruk akan menyebabkan gangguan gizi, anemia, gangguan pertumbuhan dan tingkat kecerdasan anak menurun (Anam, W. 2008)
Sekitar 40 hingga 60 persen penduduk Indonesia menderita cacingan dan data WHO menyebutkan lebih dari satu milliar penduduk dunia juga menderita cacingan. Sebagian besar penderita cacingan hidup di wilayah kumuh. Dan penderita di kalangan anak sekolah pun masih cukup tinggi. Menurut survei yang pernah dilakukan oleh Sub Direktorat Penanggulangan dan Pencegahan Diare, Cacingan, dan ISPL, Departemen Kesehatan Jakarta di suatu daerah terutama pada anak Sekolah Dasar (SD) menyebutkan sekitar 49,5 persen dari 3160 siswa di 13 SD ternyata menderita cacingan. Siswa perempuan memiliki prevalensi lebih tinggi yaitu 51,5 persen dibandingkan dengan siswa laki-laki yang hanya 48,5 persen (DepKes, 2006). Studi pendahuluan yang dilaksanakan di salah satu sekolah kota Surabaya, tepatnya di sekolah Al Mustofa Surabaya, pada bulan Januari 2009 pernah terjadi satu kasus penyakit cacingan. Yaitu dari 5 siswa yang diperiksa ada salah satu siswa yang positif terdapat telur cacing. Sebelum anak terkena cacingan, terlebih dahulu telur cacing keluar dari perut manusia bersama feses. Jika limbah manusia itu dialirkan ke sungai atau got, maka setiap tetes air akan terkontaminasi telur cacing. Jika air yang telah tercemar dipakai oleh orang lain untuk menyirami tanaman atau aspal jalan, telur-telur itu naik ke darat. Begitu air mengering, mereka menempel pada butiran debu.. Telur
lainnya terbang ke tempat-tempat yang sering dipegang tangan manusia. Lewat interaksi sehari-hari, mereka bisa berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Karena menular lewat makanan, sehingga dapat menelan telur cacing dari sayuran mentah yang dicuci kurang bersih, ketika menetas cacing tersebut akan tinggal di usus halus dan akan tinggal di perut anak tersebut. Setelah mencapai umur 2 - 3 bulan, cacing akan menjelma menjadi seekor cacing betina dewasa yang siap bertelur dan akan membuat siklus baru buat cacing-cacing generasi berikutnya (Nelson, 1994).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

hubungan antara kecerdasan dengan gizi


Kecerdasan Erat Kaitannya Dengan Asupan Gizi

Jakarta, 22 Januari 2014




 
Kecerdasan manusia sangat erat kaitannya dengan asupan gizi. Seorang anak yang mengalami gangguan akibat kekurangan iodium akan mengalami kehilangan kecerdasan sebesar 10 - 50 IQ point. Anak dengan kecerdasan rendah ini dikhwatirkan akan menjadi beban pada masa akan datang. Selain itu gizi juga memiliki hubungan erat dengan kematian anak di bawah 5 tahun. Berdasarkan data yang dilansir dalam Jurnal Lancet tahun 2013, sebanyak 44,7% kematian bayi disebabkan karena berat bayi lahir rendah (BBLR), kegagalan pemberian ASI, anak Balita stunting (pendek), kurus, dan kekurangan vitamin A dan mineral Zink.

Demikian penjelasan ini disampaikan  Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, dr. Anung Sugihantono, M.Kes dihadapan  pers pada acara Media Gathering SOHO Better U memperingati Hari Gizi Nasional  2014 di Jakarta (22/1).

Dr. Anung menyatakan secara garis besar, masalah gizi pada anak dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, pertama  yaitu kekurangan vitamin A dan Gangguan Akibat Kurang Iodium dan  kedua adalah stunting  dan gizi kurang pada anak Balita.

Untuk menanggulangi stunting, Kementerian Kesehatan melakukan serangkaian kegiatan yang dimulai dari usia remaja dan fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu sejak janin dalam kandungan sampai dengan anak berusia 24 bulan,  ujar dr. Anung.

Dr. Anung melanjutkan, persoalan gizi yang terakhir ialah kelebihan gizi, dimana saat ini tendensinya meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat.  Kondisi ini menjadi persoalan serius karena memicu penyakit tidak menular pada usia lebih muda.

Pada kesempatan yang sama Ahli Gizi, dr. Laila Hayati Sp.G (K) mengatakan bahwa obesitas pada anak dapat dicegah dengan cara memantau pertambahan berat badan dan tinggi badan secara teratur, penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) tubuh anak secara berkala, aktifitas fisik rutin tiga hingga lima kali seminggu dan melakukan pengontrolan makanan pada anak.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Anung menjelaskan Kementerian Kesehatan juga melakukan beberapa upaya dalam menangani permasalahan gizi, seperti: pemberian vitamin A bagi setiap anak, Penyuluhan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), promosi pemberian ASI eksklusif dan penggunaan garam beryodium, pemberian Makanan Penggaanti ASI (MP-ASI) dan PMT pemulihan pada anak Balita gizi kurang dan perawatan pada anak Balita gizi buruk.

Selain itu di beberapa Propinsi dilakukan pemberian Multi Mikro Nutrition (MMN) yang terdiri dari 14 jenis vitamin dan mineral kepada anak balita. Bagi ibu hamil, diberikan 90 butir tablet zat besi dan pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil yang menderita kurang energi kronis tandas dr. Anung.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat email kontak@depkes.go.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS