FUNGSI DARAH :
TUJUAN TRANSFUSI DARAH :
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
HUBUNGAN ANTARA PENYAKIT CACINGAN DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK SEKOLAH DASAR (SD) DISEKOLAH DASAR AL MUSTOFA SURABAYA
Oleh: PIPIT FESTI
ABSTRAK
Kejadian Penyakit cacing pada usia sekolah terjadi pada wilayah kumuh dan pada kelompok rawan gizi atau status gizi buruk. Bila status gizi buruk akan menyebabkan gangguan gizi, anemia, gangguan pertumbuhan dan tingkat kecerdasan anak menurun.Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara penyakit cacingan dengan staus gizi pada anak usia sekolah. Jenis penelitian merupakan penelitian korelasi . Populasi anak sekolah usia 6-7 pada kelas 1 sejumlah 40 0rang di SD AL Mustofa Surabaya.Teknik sampling adalah simple random sampling, sampel sejumlah 30 anak. Pengompulan data menggunakan lembar observasi dan uji laboratorium. Teknik analisis menggunalkan uji chi squere dengan ; 0,05.Hasil penelitian didapatkan status gizi baik 53,3 % pemeriksaan cacingan negative 56% , sebagaian tidak terkena cacingan 44 %.Hasil uji statistic didapatkan p=0,310 berarti tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian cacingan.Banyak faktor yang menjadi penyebab kejadian cacingan, salah satunya adalah perilaku hygiene individu. Diharapkan adanya peningkatan perilaku hygiene anak sekolah sehingga mencegah kejadian cacingan.
A. PENDAHULUAN
Gizi merupakan bagian terpenting dalam proses kehidupan dan proses tumbuh kembang anak. Sehingga pemenuhan kebutuhan gizi adekuat turut menentukan tumbuh kembang sebagai sumber daya manusia dimasa yang akan datang (Zaenal, 2007). Secara umum gizi sebagai bagian dari kesehatan untuk semua, mempunyai peran yang strategis dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama dalam menciptakan generasi baru yang berkualitas maju, mandiri dan cerdas (Nestle, 2005).
Kebutuhan gizi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak, mengingat
manfaat gizi dalam tubuh dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mencegah terjadinya berbagai penyakit akibat kurang gizi dalam tubuh (A. Aziz, H. 2007). Adapaun salah satu penyebab dari gangguan status gizi adalah penyakit cacingan. Bila status gizi buruk akan menyebabkan gangguan gizi, anemia, gangguan pertumbuhan dan tingkat kecerdasan anak menurun (Anam, W. 2008)
Sekitar 40 hingga 60 persen penduduk Indonesia menderita cacingan dan data WHO menyebutkan lebih dari satu milliar penduduk dunia juga menderita cacingan. Sebagian besar penderita cacingan hidup di wilayah kumuh. Dan penderita di kalangan anak sekolah pun masih cukup tinggi. Menurut survei yang pernah dilakukan oleh Sub Direktorat Penanggulangan dan Pencegahan Diare, Cacingan, dan ISPL, Departemen Kesehatan Jakarta di suatu daerah terutama pada anak Sekolah Dasar (SD) menyebutkan sekitar 49,5 persen dari 3160 siswa di 13 SD ternyata menderita cacingan. Siswa perempuan memiliki prevalensi lebih tinggi yaitu 51,5 persen dibandingkan dengan siswa laki-laki yang hanya 48,5 persen (DepKes, 2006). Studi pendahuluan yang dilaksanakan di salah satu sekolah kota Surabaya, tepatnya di sekolah Al Mustofa Surabaya, pada bulan Januari 2009 pernah terjadi satu kasus penyakit cacingan. Yaitu dari 5 siswa yang diperiksa ada salah satu siswa yang positif terdapat telur cacing. Sebelum anak terkena cacingan, terlebih dahulu telur cacing keluar dari perut manusia bersama feses. Jika limbah manusia itu dialirkan ke sungai atau got, maka setiap tetes air akan terkontaminasi telur cacing. Jika air yang telah tercemar dipakai oleh orang lain untuk menyirami tanaman atau aspal jalan, telur-telur itu naik ke darat. Begitu air mengering, mereka menempel pada butiran debu.. Telur
lainnya terbang ke tempat-tempat yang sering dipegang tangan manusia. Lewat interaksi sehari-hari, mereka bisa berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Karena menular lewat makanan, sehingga dapat menelan telur cacing dari sayuran mentah yang dicuci kurang bersih, ketika menetas cacing tersebut akan tinggal di usus halus dan akan tinggal di perut anak tersebut. Setelah mencapai umur 2 - 3 bulan, cacing akan menjelma menjadi seekor cacing betina dewasa yang siap bertelur dan akan membuat siklus baru buat cacing-cacing generasi berikutnya (Nelson, 1994).
