Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Anemia Dengan
Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil
Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi yaitu 307/100.000 kelahiran
hidup dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI, 2003). Penyebab
kematian ibu ada 2, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Penyebab utama kematian
maternal antara lain perdarahan pasca postpartum, eklampsi, penyakit infeksi, dan plasenta
previa yang semua bersumber pada anemia defisiensi besi.
Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang menstimulasi atau merangsang
terhadap terwujudnya sebuah perilaku kesehatan. Apabila ibu hamil mengetahui dan
memahami akibat anemia dan cara mencegah anemia maka akan mempunyai perilaku
kesehatan yang baik dengan harapan dapat terhindar dari berbagai akibat atau risiko dari
terjadinya anemia kehamilan. Perilaku kesehatan yang demikian berpengaruh terhadap
penurunan kejadian anemia pada ibu hamil.
Tujuan secara umum penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat pengetahuan
tentang anemia dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Moyudan Sleman
Yogyakarta.
1. Tingkat Pengetahuan tentang Anemia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang anemia pada
responden, 21 orang (50%) termasuk kategori baik dan 21 orang (50%) lainnya termasuk
kategori kurang.
Persentase ibu hamil yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik dan kurang di
Puskesmas Moyudan adalah sama yaitu masing-masing 50%. Ibu hamil yang mempunyai
pengetahuan kurang tentang anemia akan berperilaku negatif, sedangkan ibu hamil yang
mempunyai pengetahuan baik akan berperilaku positif dalam hal ini adalah perilaku untuk
mencegah atau mengobati anemia. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengetahuan
tentang anemia kepada ibu hamil. Peningkatan pengetahaun tentang anemia ini dapat
dilakukan dengan cara penyuluhan yang berdasarkan karakteristiknya agar materi
penyuluhan dapat diterima oleh semua ibu hamil meskipun karakteristiknya berbeda.
Misalnya, pemberian penyuluhan pada ibu hamil yang berpendidikan rendah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang anemia pada
responden, 21 orang (50%) termasuk kategori baik dan 21 orang (50%) lainnya termasuk
kategori kurang.
Persentase ibu hamil yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik dan kurang di
Puskesmas Moyudan adalah sama yaitu masing-masing 50%. Ibu hamil yang mempunyai
pengetahuan kurang tentang anemia akan berperilaku negatif, sedangkan ibu hamil yang
mempunyai pengetahuan baik akan berperilaku positif dalam hal ini adalah perilaku untuk
mencegah atau mengobati anemia. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengetahuan
tentang anemia kepada ibu hamil. Peningkatan pengetahaun tentang anemia ini dapat
dilakukan dengan cara penyuluhan yang berdasarkan karakteristiknya agar materi
penyuluhan dapat diterima oleh semua ibu hamil meskipun karakteristiknya berbeda.
Misalnya, pemberian penyuluhan pada ibu hamil yang berpendidikan rendah.
menggunakan cara berbeda dengan penyuluhan yang dilakukan pada ibu hamil yang
berpendidikan tinggi.
berpendidikan tinggi.
2. Kejadian Anemia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kadar Hb
<11 gr% atau menderita anemia yaitu sebanyak 27 orang (64,3%) dan memiliki kadar Hb
≥11 gr% atau tidak menderita anemia sebanyak 15 orang (35,7%).
Anemia pada kehamilan secara langsung disebabkan oleh malnutrisi, kurang zat besi,
malabsorpsi, dan penyakit kronis (TB, malaria, cacingan, dan lain-lain). Secara tidak
langsung dapat diakibatkan oleh umur ibu waktu hamil, pengetahuan tentang anemia pada
kehamilan, paritas, dan lain sebagainya. Ibu hamil yang menderita anemia berisiko
terhadap gangguan tumbuh kembang janin bahkan berisiko terhadap persalinan. Oleh
karena itu dengan mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia dapat
ditentukan tindakan yang tepat untuk mencegah terjadinya anemia dalam kehamilan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kadar Hb
<11 gr% atau menderita anemia yaitu sebanyak 27 orang (64,3%) dan memiliki kadar Hb
≥11 gr% atau tidak menderita anemia sebanyak 15 orang (35,7%).
Anemia pada kehamilan secara langsung disebabkan oleh malnutrisi, kurang zat besi,
malabsorpsi, dan penyakit kronis (TB, malaria, cacingan, dan lain-lain). Secara tidak
langsung dapat diakibatkan oleh umur ibu waktu hamil, pengetahuan tentang anemia pada
kehamilan, paritas, dan lain sebagainya. Ibu hamil yang menderita anemia berisiko
terhadap gangguan tumbuh kembang janin bahkan berisiko terhadap persalinan. Oleh
karena itu dengan mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia dapat
ditentukan tindakan yang tepat untuk mencegah terjadinya anemia dalam kehamilan.
3. Kejadian Anemia Responden Berdasarkan Karakteristik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian anemia dialami oleh responden
dengan berbagai karakteristik. Dari 38 orang berumur reproduksi sehat 23 orang (60,5%)
mengalami anemia dan 15 orang (39,5%) tidak anemia. Dari 4 orang berumur reproduksi
tidak sehat seluruhnya (100%) mengalami anemia.
Dari 10 orang berpendidikan dasar 9 orang (90%) mengalami anemia dan 1 orang
(10%) tidak anemia. Dari 26 orang berpendidikan menengah 16 orang (61,5%)
mengalami anemia dan 10 orang (38,5%) tidak anemia. Dari 6 orang berpendidikan tinggi
2 orang (33,3%) mengalami anemia dan 4 orang (66,7%) tidak anemia.
Dari 17 orang yang bekerja 13 orang (76,5%) mengalami anemia dan 4 orang
(23,5%) tidak anemia. Dari 25 orang yang tidak bekerja 14 orang (56%) mengalami
anemia dan 11 orang (44%) tidak anemia. Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase umur ibu hamil dapat diketahui bahwa persentase ibu hamil yang termasuk umur reproduksi tidak sehat lebih banyak yang
menderita anemia dibanding ibu hamil yang termasuk umur reproduksi sehat. Ibu hamil
dalam kelompok umur reproduksi tidak sehat yaitu ibu hamil yang berumur >35 tahun
mempunyai organ reproduksi yang kurang dapat berfungsi dengan baik. Kemampuan usus
halus pada ibu hamil yang termasuk umur reproduksi tidak sehat kurang dapat
mengabsorpsi zat besi yang terkandung dalam makanan sehingga kurang mampu men-supply darah secara cukup ke plasenta sehingga mengakibatkan terjadinya anemia saat
kehamilan.
Mengenai persentase pendidikan ibu hamil, ada kecenderungan bahwa ibu hamil yang
berpendidikan dasar lebih banyak yang mengalami anemia dibandingkan ibu hamil yang
berpendidikan menengah dan ibu hamil yang berpendidikan menengah lebih banyak yang
mengalami anemia dibandingkan dengan ibu hamil yang berpendidikan tinggi. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan ibu hamil maka semakin sedikit
jumlah ibu hamil yang menderita anemia. Ibu hamil yang berpendidikan tinggi lebih
mampu berperilaku baik untuk mencegah terjadinya anemia saat hamil dibanding ibu
hamil yang berpendidikan dasar. Melalui pendidikan, setiap ibu hamil dapat melatih daya
pikir sehingga memudahkan dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
Dalam hal kejadian anemia pada ibu hamil berdasarkan pekerjaan tampak persentase
lebih besar pada ibu hamil yang bekerja. Pekerjaan merupakan suatu aktivitas sehingga
memperoleh penghasilan. Jenis pekerjaan menentukan jumlah penghasilan yang diterima.
Ibu hamil yang bekerja berarti mempunyai penghasilan untuk membantu suami dalam
mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ibu hamil yang mempunyai penghasilan berhubungan
dengan kemampuan ibu hamil untuk memperoleh pengetahuan tentang anemia karena
tercukupi keuangan keluarga.
Rendahnya tingkat ekonomi pada ibu hamil yang tidak bekerja mengakibatkan
kemampuan ibu hamil untuk memperoleh informasi dan melakukan pemeriksaan
kehamilan menjadi berkurang. Namun, disisi lain ibu hamil yang tidak bekerja
mempunyai lebih banyak waktu luang sehingga dapat digunakan untuk mengikuti
berbagai penyuluhan meskipun mempunyai keterbatasan dalam hal keuangan.
Pengetahuan yang diperoleh ibu hamil tidak bekerja ini berpengaruh terhadap rendahnya
kejadian anemia ibu hamil dibanding ibu yang bekerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian anemia dialami oleh responden
dengan berbagai karakteristik. Dari 38 orang berumur reproduksi sehat 23 orang (60,5%)
mengalami anemia dan 15 orang (39,5%) tidak anemia. Dari 4 orang berumur reproduksi
tidak sehat seluruhnya (100%) mengalami anemia.
Dari 10 orang berpendidikan dasar 9 orang (90%) mengalami anemia dan 1 orang
(10%) tidak anemia. Dari 26 orang berpendidikan menengah 16 orang (61,5%)
mengalami anemia dan 10 orang (38,5%) tidak anemia. Dari 6 orang berpendidikan tinggi
2 orang (33,3%) mengalami anemia dan 4 orang (66,7%) tidak anemia.
Dari 17 orang yang bekerja 13 orang (76,5%) mengalami anemia dan 4 orang
(23,5%) tidak anemia. Dari 25 orang yang tidak bekerja 14 orang (56%) mengalami
anemia dan 11 orang (44%) tidak anemia. Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase umur ibu hamil dapat diketahui bahwa persentase ibu hamil yang termasuk umur reproduksi tidak sehat lebih banyak yang
menderita anemia dibanding ibu hamil yang termasuk umur reproduksi sehat. Ibu hamil
dalam kelompok umur reproduksi tidak sehat yaitu ibu hamil yang berumur >35 tahun
mempunyai organ reproduksi yang kurang dapat berfungsi dengan baik. Kemampuan usus
halus pada ibu hamil yang termasuk umur reproduksi tidak sehat kurang dapat
mengabsorpsi zat besi yang terkandung dalam makanan sehingga kurang mampu men-supply darah secara cukup ke plasenta sehingga mengakibatkan terjadinya anemia saat
kehamilan.
Mengenai persentase pendidikan ibu hamil, ada kecenderungan bahwa ibu hamil yang
berpendidikan dasar lebih banyak yang mengalami anemia dibandingkan ibu hamil yang
berpendidikan menengah dan ibu hamil yang berpendidikan menengah lebih banyak yang
mengalami anemia dibandingkan dengan ibu hamil yang berpendidikan tinggi. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan ibu hamil maka semakin sedikit
jumlah ibu hamil yang menderita anemia. Ibu hamil yang berpendidikan tinggi lebih
mampu berperilaku baik untuk mencegah terjadinya anemia saat hamil dibanding ibu
hamil yang berpendidikan dasar. Melalui pendidikan, setiap ibu hamil dapat melatih daya
pikir sehingga memudahkan dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
Dalam hal kejadian anemia pada ibu hamil berdasarkan pekerjaan tampak persentase
lebih besar pada ibu hamil yang bekerja. Pekerjaan merupakan suatu aktivitas sehingga
memperoleh penghasilan. Jenis pekerjaan menentukan jumlah penghasilan yang diterima.
Ibu hamil yang bekerja berarti mempunyai penghasilan untuk membantu suami dalam
mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ibu hamil yang mempunyai penghasilan berhubungan
dengan kemampuan ibu hamil untuk memperoleh pengetahuan tentang anemia karena
tercukupi keuangan keluarga.
Rendahnya tingkat ekonomi pada ibu hamil yang tidak bekerja mengakibatkan
kemampuan ibu hamil untuk memperoleh informasi dan melakukan pemeriksaan
kehamilan menjadi berkurang. Namun, disisi lain ibu hamil yang tidak bekerja
mempunyai lebih banyak waktu luang sehingga dapat digunakan untuk mengikuti
berbagai penyuluhan meskipun mempunyai keterbatasan dalam hal keuangan.
Pengetahuan yang diperoleh ibu hamil tidak bekerja ini berpengaruh terhadap rendahnya
kejadian anemia ibu hamil dibanding ibu yang bekerja.
Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Anemia dengan Kejadian Anemia.
Hasil penelitian menunjukkan dari 27 responden yang mengalami anemia sebanyak
8 orang (29,6%) memiliki tingkat pengetahuan tentang anemia dalam kategori baik dan 19
orang (70,4%) memiliki tingkat pengetahuan tentang anemia dalam kategori kurang. Dari
15 orang responden yang tidak mengalami anemia sebanyak 13 orang (86,7%) memiliki
pengetahuan tentang anemia dalam kategori baik dan 2 orang (13,3%) memiliki tingkat
pengetahuan tentang anemia dalam kategori kurang.
Hasil analisis dengan menggunakan chi square menunjukkan nilai chi square hitung
(X2hitung) sebesar 12,548. Berdasarkan nilai df (degree of freedom) sebesar 1 dan taraf
signifikansi 5% diketahui X2 tabel sebesar 3,841. Hal ini berarti bahwa X2 hitung > X2
tabel (12,548 > 3,841). Selain itu dapat dilihat dari nilai p yaitu sebesar 0,000 < 0,05 (p <
α), berarti ada hubungan tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia
pada ibu hamil di Puskesmas Moyudan Sleman Yogyakarta.
Nilai contingency coeficient menunjukkan angka 0,480. Berdasarkan pedoman
interpretasi tingkat keeratan hubungan, maka nilai koefisien kontingensi (contingency
coeficient) sebesar 0,480 berada dalam interval nilai 0,40-0,599 yang berarti hubungan
tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas
Moyudan Sleman Yogyakarta termasuk dalam tingkatan sedang.
Tingkat pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil di Puskesmas Moyudan masih
banyak yang termasuk kategori kurang. Ibu hamil yang mempunyai tingkat pengetahuan
kurang tentang anemia berarti pemahaman tentang pengertian anemia, hal-hal yang
menyebabkan anemia, tanda dan gejala anemia, hal-hal yang diakibatkan apabila terjadi
anemia, maupun tentang perilaku kesehatan untuk mencegah terjadinya anemia menjadi
kurang untuk dapat menghindari terjadinya anemia kehamilan.
Pengetahuan yang kurang tentang anemia mempunyai pengaruh terhadap perilaku
kesehatan khususnya ketika seorang wanita pada saat hamil, akan berakibat pada kurang
optimalnya perilaku kesehatan ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia kehamilan.
Ibu hamil yang mempunyai pengetahuan kurang tentang anemia dapat berakibat pada
kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi selama kehamilan yang
dikarenakan oleh ketidaktahuannya.
Banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya anemia kehamilan. Anemia
disebabkan: kurang gizi (malnutrisi), kurang zat besi dalam diet, malabsorpsi, kehilangan
darah yang banyak saat persalinan atau haid yang lalu, dan penyakit kronik seperti : TB
paru, cacing usus, dan malaria. Tingkat kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe atau tablet zat
besi oleh ibu hamil mempunyai pengaruh terhadap kejadian anemia. Anemia kehamilan
terjadi karena cara minum tablet zat besi dengan menggunakan kopi atau teh yang bersifat
mengikat zat besi, sehingga zat besi tidak bisa diabsorpsi tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan dari 27 responden yang mengalami anemia sebanyak
8 orang (29,6%) memiliki tingkat pengetahuan tentang anemia dalam kategori baik dan 19
orang (70,4%) memiliki tingkat pengetahuan tentang anemia dalam kategori kurang. Dari
15 orang responden yang tidak mengalami anemia sebanyak 13 orang (86,7%) memiliki
pengetahuan tentang anemia dalam kategori baik dan 2 orang (13,3%) memiliki tingkat
pengetahuan tentang anemia dalam kategori kurang.
Hasil analisis dengan menggunakan chi square menunjukkan nilai chi square hitung
(X2hitung) sebesar 12,548. Berdasarkan nilai df (degree of freedom) sebesar 1 dan taraf
signifikansi 5% diketahui X2 tabel sebesar 3,841. Hal ini berarti bahwa X2 hitung > X2
tabel (12,548 > 3,841). Selain itu dapat dilihat dari nilai p yaitu sebesar 0,000 < 0,05 (p <
α), berarti ada hubungan tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia
pada ibu hamil di Puskesmas Moyudan Sleman Yogyakarta.
Nilai contingency coeficient menunjukkan angka 0,480. Berdasarkan pedoman
interpretasi tingkat keeratan hubungan, maka nilai koefisien kontingensi (contingency
coeficient) sebesar 0,480 berada dalam interval nilai 0,40-0,599 yang berarti hubungan
tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas
Moyudan Sleman Yogyakarta termasuk dalam tingkatan sedang.
Tingkat pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil di Puskesmas Moyudan masih
banyak yang termasuk kategori kurang. Ibu hamil yang mempunyai tingkat pengetahuan
kurang tentang anemia berarti pemahaman tentang pengertian anemia, hal-hal yang
menyebabkan anemia, tanda dan gejala anemia, hal-hal yang diakibatkan apabila terjadi
anemia, maupun tentang perilaku kesehatan untuk mencegah terjadinya anemia menjadi
kurang untuk dapat menghindari terjadinya anemia kehamilan.
Pengetahuan yang kurang tentang anemia mempunyai pengaruh terhadap perilaku
kesehatan khususnya ketika seorang wanita pada saat hamil, akan berakibat pada kurang
optimalnya perilaku kesehatan ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia kehamilan.
Ibu hamil yang mempunyai pengetahuan kurang tentang anemia dapat berakibat pada
kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi selama kehamilan yang
dikarenakan oleh ketidaktahuannya.
Banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya anemia kehamilan. Anemia
disebabkan: kurang gizi (malnutrisi), kurang zat besi dalam diet, malabsorpsi, kehilangan
darah yang banyak saat persalinan atau haid yang lalu, dan penyakit kronik seperti : TB
paru, cacing usus, dan malaria. Tingkat kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe atau tablet zat
besi oleh ibu hamil mempunyai pengaruh terhadap kejadian anemia. Anemia kehamilan
terjadi karena cara minum tablet zat besi dengan menggunakan kopi atau teh yang bersifat
mengikat zat besi, sehingga zat besi tidak bisa diabsorpsi tubuh.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Almatsier, Sunita. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.






0 komentar:
Posting Komentar